Di tengah zaman yang serba cepat, tradisi gotong royong sering dianggap mulai memudar. Banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, pekerjaan makin padat, dan interaksi sosial kadang lebih sering terjadi lewat layar ponsel.
Tapi di banyak desa, nilai kebersamaan itu masih tetap hidup. Salah satunya bisa dilihat dalam kehidupan warga Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Tradisi gotong royong warga Desa Selasari bukan hanya terlihat saat ada kerja bakti membersihkan jalan atau selokan.
Lebih dari itu, gotong royong menjadi cara masyarakat menjaga lingkungan, membangun fasilitas umum, mengembangkan desa wisata, mengelola UMKM, sampai menjaga budaya lokal.
Selasari hari ini dikenal sebagai desa wisata alam dan budaya. Ada Santirah River Tubing, Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, wisata edukasi, hingga seni budaya seperti Ronggeng Gunung dan Seni Lebon.
Namun di balik semua potensi itu, ada satu kekuatan sosial yang membuat desa ini terus bergerak: warga yang mau bekerja bersama.
Mengenal Desa Selasari dan Karakter Masyarakatnya
Desa Selasari berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Desa ini punya karakter alam yang cukup kuat karena berada di kawasan perbukitan, dekat dengan sungai, hutan, gua karst, mata air, dan lahan pertanian.
Menurut profil Jadesta Kementerian Pariwisata, Selasari termasuk desa wisata kategori maju dan pernah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.
Desa ini juga memiliki produk wisata, homestay, paket edukasi, suvenir, serta kuliner lokal seperti Pakis Crispy, Kopi Robusta, Madu Jaga Rasa, Pindang Gunung, dan Jolem.
Karakter masyarakat Selasari sangat dekat dengan kehidupan desa agraris. Dalam masyarakat agraris, kerja bersama bukan hal asing.
Warga terbiasa saling membantu saat mengurus lahan, membangun fasilitas umum, membersihkan lingkungan, menyiapkan acara, atau menyelesaikan kebutuhan sosial lainnya.
Dari sinilah gotong royong tumbuh sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia bukan sekadar kegiatan formal, tetapi kebiasaan yang membentuk cara warga memandang desa sebagai rumah bersama.
Makna Gotong Royong bagi Warga Desa Selasari
Gotong royong secara sederhana berarti bekerja bersama untuk kepentingan bersama. Tapi dalam praktiknya, maknanya jauh lebih dalam. Gotong royong menunjukkan bahwa warga tidak hidup sendiri-sendiri.
Ada rasa saling peduli, saling membutuhkan, dan saling menjaga. Bagi warga Selasari, gotong royong menjadi cara untuk memperkuat hubungan sosial.
Ketika warga turun bersama membersihkan jalan, memperbaiki lingkungan, atau membantu acara desa, mereka tidak hanya menyelesaikan pekerjaan fisik. Mereka juga mempererat silaturahmi.
Nilai seperti ini penting, terutama di desa yang sedang berkembang sebagai destinasi wisata. Desa wisata tidak cukup hanya punya alam indah.
Harus ada masyarakat yang kompak, lingkungan yang bersih, pelayanan yang ramah, dan pengelolaan yang rapi. Gotong royong membuat semua itu lebih mungkin dilakukan.
Pekerjaan yang berat bisa terasa ringan karena dikerjakan bersama. Masalah yang rumit bisa lebih mudah dibahas karena warga terbiasa bermusyawarah. Potensi desa juga lebih mudah berkembang karena banyak pihak ikut terlibat.
Kerja Bakti Menjaga Kebersihan Lingkungan
Salah satu bentuk paling nyata dari gotong royong di Selasari adalah kerja bakti membersihkan lingkungan. Situs resmi Desa Selasari mencatat adanya kegiatan gotong royong warga untuk membersihkan jalan desa pada 15 Desember 2025.
Dalam kegiatan itu, warga bersama-sama membersihkan badan jalan, menyapu permukaan aspal, memangkas rumput liar di bahu jalan, dan merapikan lingkungan sekitar.
Kegiatan seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Jalan yang bersih membuat aktivitas warga lebih nyaman. Lingkungan yang rapi juga memberi kesan baik bagi wisatawan yang datang ke Selasari.
Sebagai desa wisata, kebersihan adalah bagian dari wajah desa. Wisatawan yang datang untuk river tubing, susur gua, camping, atau wisata budaya tentu akan lebih nyaman jika jalan, area parkir, jalur wisata, dan lingkungan warga terlihat terawat.
Kerja bakti juga menjadi cara warga menunjukkan kepedulian. Tidak semua hal harus menunggu bantuan pemerintah. Ada hal-hal yang bisa dikerjakan bersama secara langsung, terutama yang berkaitan dengan kebersihan dan kenyamanan lingkungan.
Gotong Royong Menjelang Hari Besar
Tradisi gotong royong di Selasari juga terlihat menjelang hari-hari besar. Situs resmi Desa Selasari pernah mencatat kegiatan gotong royong masyarakat menjelang peringatan HUT RI ke-80 pada 1 Agustus 2025.
Kegiatan tersebut dilakukan secara serentak oleh warga dari berbagai dusun, mulai dari membersihkan selokan, memangkas rumput liar, hingga merapikan lingkungan.
Momen seperti HUT RI biasanya menjadi waktu yang kuat untuk membangkitkan kebersamaan warga. Ada semangat nasionalisme, suasana kampung yang lebih ramai, dan keinginan untuk membuat lingkungan terlihat lebih tertib.
Di desa, kegiatan seperti ini biasanya tidak hanya tentang kebersihan. Ada rasa bangga karena warga ikut menyiapkan kampungnya sendiri.
Anak-anak bisa melihat orang tua mereka bekerja bersama. Pemuda bisa ikut membantu tenaga. Ibu-ibu bisa menyiapkan konsumsi atau mendukung kegiatan dari sisi lain.
Dengan cara seperti ini, gotong royong menjadi sarana pendidikan sosial. Generasi muda belajar bahwa menjaga desa bukan hanya tugas perangkat desa, tetapi tanggung jawab bersama.
Gotong Royong dalam Pengembangan Desa Wisata
Perkembangan Selasari sebagai desa wisata tidak bisa dilepaskan dari gotong royong.
DetikJabar mencatat bahwa Pemerintah Desa Selasari membentuk Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis sebagai penggerak utama, serta melibatkan BUMDes dalam pengelolaan tiket, paket wisata, homestay, dan produk UMKM.
Dalam artikel yang sama, Kepala Desa Selasari Udin Tugaswara menekankan bahwa sistem gotong royong menjadi kunci agar keuntungan wisata tidak hanya dinikmati segelintir orang.
Warga dilibatkan sebagai pemandu, pengelola, pelaku UMKM, pemilik homestay, dan unsur pendukung lainnya.
Ini menarik karena gotong royong di Selasari tidak hanya berbentuk kerja bakti fisik. Gotong royong juga hadir dalam sistem ekonomi wisata. Warga berbagi peran sesuai kemampuan masing-masing.
Ada yang menjadi pemandu Santirah River Tubing. Ada yang menyediakan makanan. Ada yang membuka homestay. Ada yang membantu promosi. Ada yang menjaga kebersihan lokasi. Ada juga yang terlibat dalam seni budaya dan pertunjukan.
Dengan model seperti ini, desa wisata menjadi lebih inklusif. Wisata bukan hanya milik pengelola tertentu, tetapi menjadi peluang bersama bagi masyarakat.
Peran Pokdarwis, BUMDes, dan Warga Lokal
Dalam desa wisata, gotong royong membutuhkan organisasi agar berjalan lebih rapi. Di Selasari, peran Pokdarwis dan BUMDes menjadi penting. Pokdarwis membantu menggerakkan kesadaran wisata, sementara BUMDes membantu pengelolaan unit usaha desa.
NU Online pernah mencatat bahwa pengembangan wisata air Santirah River Tubing dikelola oleh BUMDes Desa Selasari.
Menteri Desa PDTT juga berdiskusi dengan pengurus BUMDes, kepala desa, dan masyarakat setempat terkait pengembangan unit usaha wisata agar bisa menarik pasar lebih luas.
Ini menunjukkan bahwa gotong royong di Selasari sudah berkembang dari pola tradisional menjadi sistem pemberdayaan. Artinya, warga tidak hanya berkumpul untuk kerja bakti, tetapi juga terlibat dalam aktivitas ekonomi desa.
Pokdarwis, BUMDes, pemuda, pelaku UMKM, pemandu wisata, seniman, dan warga saling melengkapi. Jika salah satu tidak bergerak, desa wisata bisa kurang maksimal.
Tapi ketika semuanya ikut mengambil peran, Selasari punya peluang besar untuk terus maju.
Gotong Royong dan Pelestarian Alam
Selasari dikenal dengan wisata alam seperti Santirah River Tubing, Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, Curug Cimanggu, dan kawasan karst. Alam adalah aset utama desa ini. Karena itu, menjaga alam menjadi bagian penting dari gotong royong warga.
Sungai harus dijaga agar tetap bersih. Jalur wisata perlu dirawat. Rumput liar perlu dipangkas. Sampah harus dikelola. Kawasan gua dan bukit perlu dijaga agar tidak rusak oleh aktivitas wisata yang berlebihan.
Di sinilah gotong royong punya peran besar. Kalau hanya mengandalkan petugas atau pengelola wisata, pekerjaan menjaga lingkungan akan terasa berat. Tapi jika warga ikut peduli, kebersihan dan kelestarian alam bisa lebih mudah dipertahankan.
Pelestarian alam juga berkaitan langsung dengan ekonomi warga. Jika sungai kotor, wisata river tubing bisa terganggu. Jika jalur menuju gua tidak terawat, wisatawan kurang nyaman. Jika kawasan bukit rusak, daya tarik desa bisa menurun.
Karena itu, menjaga alam bukan hanya soal idealisme lingkungan. Bagi Selasari, itu juga bagian dari menjaga masa depan desa.
Gotong Royong dalam Budaya dan Acara Masyarakat
Gotong royong juga hadir dalam kegiatan budaya dan sosial masyarakat. Selasari memiliki kekayaan seni seperti Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, dan tradisi Sunda lainnya. Kegiatan budaya seperti ini biasanya membutuhkan banyak dukungan warga.
Ada yang menyiapkan tempat, mengurus perlengkapan, melatih pemain, mengatur tamu, menyediakan konsumsi, dan membantu dokumentasi. Semua itu berjalan lebih mudah jika warga punya semangat kebersamaan.
Dalam acara keluarga atau kegiatan kampung, gotong royong juga terasa. Misalnya saat ada hajatan, kegiatan keagamaan, peringatan hari besar, atau musyawarah desa. Warga biasanya ikut membantu sesuai kemampuan.
Budaya seperti ini membuat kehidupan desa terasa hangat. Orang tidak merasa sendirian ketika punya acara atau menghadapi pekerjaan besar. Selalu ada tetangga, saudara, atau warga sekitar yang siap membantu.
Bagi wisatawan, suasana seperti ini menjadi pengalaman menarik. Mereka bisa melihat bahwa Selasari bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga komunitas masyarakat yang hidup dan saling mendukung.
Gotong Royong dan Kekuatan Ekonomi Lokal
Salah satu dampak penting dari gotong royong di Selasari adalah tumbuhnya ekonomi lokal. Ketika wisata berkembang dengan melibatkan warga, manfaatnya bisa menyebar lebih luas.
Pemandu wisata mendapat penghasilan dari aktivitas river tubing atau susur gua. Pelaku UMKM menjual makanan dan oleh-oleh. Ibu-ibu desa bisa memasak untuk paket wisata. Pemilik rumah bisa mengembangkan homestay. Seniman bisa tampil dalam paket wisata budaya.
DetikJabar mencatat bahwa sistem pemberdayaan warga di Selasari membuat pendapatan lebih banyak dinikmati oleh pelaku lokal, seperti pemandu, pedagang, dan homestay. Bahkan desa disebut lebih berperan sebagai fasilitator.
Model seperti ini menarik karena menunjukkan gotong royong dalam bentuk modern. Bukan hanya saling bantu tenaga, tetapi saling membuka ruang ekonomi. Warga tidak saling bersaing secara tidak sehat, melainkan berbagi peran agar desa tumbuh bersama.
Jika pola ini terus dijaga, Selasari bisa menjadi contoh bagaimana desa wisata mampu meningkatkan kesejahteraan tanpa kehilangan nilai lokal.
Tantangan Menjaga Tradisi Gotong Royong
Meski masih hidup, tradisi gotong royong tetap punya tantangan. Salah satunya adalah perubahan gaya hidup. Anak muda punya aktivitas yang berbeda dari generasi sebelumnya. Sebagian warga juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tantangan lain adalah rasa individualisme yang bisa tumbuh seiring perkembangan ekonomi. Ketika wisata mulai menghasilkan uang, perlu ada sistem yang adil agar tidak muncul kecemburuan sosial.
Jika manfaat wisata hanya dirasakan kelompok tertentu, semangat gotong royong bisa melemah.
Karena itu, transparansi dan komunikasi menjadi penting. Pembagian peran harus jelas. Musyawarah harus tetap dijaga. Pengelolaan wisata perlu melibatkan warga secara luas, bukan hanya pihak tertentu.
Selain itu, gotong royong perlu dikemas agar tetap relevan bagi generasi muda. Misalnya, kerja bakti bisa dipadukan dengan konten edukasi lingkungan, dokumentasi digital, lomba kebersihan dusun, atau program relawan desa wisata.
Dengan begitu, gotong royong tidak terasa kuno. Justru menjadi bagian dari gaya hidup desa yang modern, sehat, dan produktif.
Cara Menjaga Gotong Royong agar Tetap Hidup
Agar tradisi gotong royong warga Desa Selasari tetap kuat, perlu ada kebiasaan yang terus dirawat. Pertama, kegiatan bersama harus dibuat rutin, bukan hanya saat ada acara besar.
Kerja bakti bulanan, bersih sungai, atau perawatan jalur wisata bisa menjadi agenda yang mudah dijalankan.
Kedua, anak muda perlu dilibatkan. Mereka bisa membantu dari sisi tenaga, promosi, dokumentasi, media sosial, hingga ide kreatif untuk desa wisata.
Ketiga, manfaat gotong royong perlu dirasakan langsung. Jika warga melihat lingkungan makin bersih, wisata makin ramai, dan ekonomi lokal ikut tumbuh, mereka akan lebih semangat terlibat.
Keempat, tokoh masyarakat, perangkat desa, Pokdarwis, dan BUMDes perlu terus menjadi contoh. Gotong royong akan lebih kuat jika pemimpin lokal juga turun langsung, bukan hanya memberi instruksi.
Dengan langkah seperti ini, gotong royong bisa tetap menjadi identitas Selasari di tengah perubahan zaman.
Tradisi gotong royong warga Desa Selasari adalah salah satu kekuatan utama yang membuat desa ini terus berkembang.
Gotong royong tidak hanya terlihat dalam kerja bakti membersihkan jalan atau selokan, tetapi juga dalam pengembangan desa wisata, pelestarian alam, kegiatan budaya, UMKM, homestay, dan pemberdayaan masyarakat.
Selasari membuktikan bahwa kemajuan desa tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Kadang, kekuatan paling penting justru datang dari warga yang mau bergerak bersama.
Ketika masyarakat kompak, alam terjaga, budaya tetap hidup, dan ekonomi lokal ikut tumbuh.
Kalau berkunjung ke Selasari, jangan hanya menikmati river tubing, gua, atau bukitnya. Lihat juga semangat warganya. Dari gotong royong itulah Selasari punya jiwa yang hangat dan berbeda.
FAQ
1. Apa bentuk gotong royong warga Desa Selasari?
Bentuk gotong royong di Selasari antara lain kerja bakti membersihkan jalan, membersihkan selokan, memangkas rumput liar, menyiapkan acara desa, menjaga lingkungan wisata, dan mendukung pengembangan desa wisata.
2. Mengapa gotong royong penting bagi Desa Selasari?
Gotong royong penting karena memperkuat kebersamaan warga, menjaga lingkungan, mendukung wisata alam, memperlancar kegiatan sosial, dan membantu ekonomi lokal tumbuh lebih merata.
3. Apa hubungan gotong royong dengan desa wisata Selasari?
Pengembangan Desa Wisata Selasari melibatkan warga sebagai pemandu, pelaku UMKM, pengelola homestay, seniman, dan unsur pendukung lain. Ini menunjukkan gotong royong menjadi bagian dari sistem pemberdayaan desa.
4. Apakah gotong royong di Selasari hanya berupa kerja bakti?
Tidak. Gotong royong juga terlihat dalam pengelolaan wisata, acara budaya, kegiatan sosial, promosi desa, pengembangan UMKM, dan pelestarian lingkungan.
5. Bagaimana cara menjaga tradisi gotong royong agar tidak hilang?
Caranya dengan membuat kegiatan rutin, melibatkan anak muda, menjaga musyawarah, membagi manfaat wisata secara adil, dan memastikan tokoh desa ikut memberi contoh langsung.