Setiap nama desa biasanya menyimpan cerita. Ada yang berasal dari tokoh lama, kondisi alam, peristiwa penting, atau harapan masyarakat yang hidup di tempat itu.
Begitu juga dengan Selasari, sebuah desa di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang kini dikenal sebagai salah satu desa wisata alam dengan suasana pedesaan yang masih kuat.
Membahas asal-usul nama Selasari dan cerita masyarakatnya bukan hanya soal mencari arti kata. Lebih dari itu, kita sedang membaca hubungan antara nama, alam, sejarah, budaya, dan kehidupan warga yang tumbuh di dalamnya.
Selasari hari ini dikenal dengan Santirah River Tubing, Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, seni budaya Sunda, kuliner lokal, dan keramahan masyarakatnya.
Namun di balik semua itu, ada identitas yang lebih dalam: desa yang lahir dari kehidupan agraris, dekat dengan air, hutan, gua, bukit, serta tradisi gotong royong yang masih terasa sampai sekarang.
Mengenal Desa Selasari di Pangandaran
Desa Selasari berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Secara geografis, desa ini berada di kawasan yang cukup sejuk karena terletak pada ketinggian sekitar 200-500 meter di atas permukaan laut.
Wilayahnya juga dikenal luas dan memiliki delapan dusun, yaitu Salakambang, Cikawung, Banjarsari, Tenjosari, Karangmukti, Giriharja, Cikadu, dan Pepedan.
Posisi desa yang berada di antara perbukitan, kawasan hutan, lahan pertanian, sungai, dan bentang karst membuat Selasari punya karakter yang khas.
Berbeda dari Pangandaran yang sering identik dengan pantai, Selasari menawarkan wajah lain: desa hijau dengan udara segar, aliran sungai jernih, gua alami, dan kehidupan warga yang masih sangat dekat dengan alam.
Menurut profil Jadesta Kementerian Pariwisata, Selasari merupakan salah satu desa terluas di Kecamatan Parigi. Mayoritas masyarakatnya juga memiliki hubungan erat dengan pertanian.
Ini penting karena karakter agraris tersebut ikut membentuk cara hidup warga, pola sosial, tradisi, dan cara mereka mengelola potensi desa.
Jadi, ketika orang datang ke Selasari, mereka tidak hanya datang ke tempat wisata. Mereka sebenarnya sedang masuk ke ruang hidup masyarakat yang punya sejarah, kebiasaan, dan cerita turun-temurun.
Asal-Usul Nama Selasari: Antara Makna Bahasa dan Cerita Lokal
Sampai saat ini, sumber resmi yang mudah diakses belum banyak menjelaskan secara tegas dari mana nama “Selasari” pertama kali muncul.
Karena itu, asal-usul nama Selasari lebih aman dibaca melalui dua pendekatan: makna bahasa dan tafsir lokal yang berkembang dari karakter wilayahnya.
Secara bahasa, kata “sela” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti ruang di antara dua benda, celah, atau tempat yang berada di antara sesuatu.
Sementara itu, “sari” berarti inti, pati, bagian utama, atau sesuatu yang dianggap paling bernilai dari suatu benda atau keadaan.
Jika dua kata ini dibaca secara simbolis, “Selasari” bisa dimaknai sebagai “sari di antara sela-sela” atau “inti keindahan yang berada di antara ruang alam.”
Tafsir ini terasa cocok jika melihat kondisi desa yang berada di antara perbukitan, aliran sungai, hutan, gua, dan lahan pertanian. Tentu, tafsir ini bukan berarti satu-satunya asal-usul yang pasti.
Namun sebagai pendekatan budaya, makna tersebut cukup menarik. Selasari seperti menggambarkan desa yang menyimpan inti keindahan di sela-sela bentang alam Pangandaran.
Dalam konteks lokal, nama desa sering kali tidak hanya dipahami dari kamus. Nama juga bisa lahir dari pengalaman warga, sebutan orang tua zaman dulu, kondisi geografis, atau harapan masyarakat.
Karena itu, cerita tentang Selasari sebaiknya dilihat sebagai gabungan antara bahasa, ingatan kolektif, dan kehidupan sehari-hari warga.
Jejak Sejarah Desa Selasari
Menurut data sekunder RPJMDes yang dikutip dalam profil Desa Wisata Selasari di Jadesta, Desa Selasari telah ada sejak masa penjajahan Jepang. Sebelum Kabupaten Pangandaran berdiri sebagai daerah otonom, Selasari merupakan bagian dari Kabupaten Ciamis.
Setelah pemekaran wilayah pada tahun 2012, desa ini kemudian masuk ke dalam Kabupaten Pangandaran.
Perubahan administratif ini menjadi bagian penting dari perjalanan Selasari. Ketika Pangandaran berkembang sebagai kabupaten wisata, potensi desa-desa di sekitarnya ikut mendapat perhatian.
Selasari yang sebelumnya lebih dikenal sebagai desa agraris mulai dilihat sebagai desa dengan potensi wisata alam, budaya, dan edukasi.
Namun jauh sebelum dikenal sebagai desa wisata, kehidupan masyarakat Selasari bertumpu pada pertanian dan sumber daya alam. Lahan-lahan pertanian, hutan, mata air, sungai, dan hasil bumi menjadi bagian penting dalam kehidupan warga.
Di Dusun Banjarsari, misalnya, terdapat kawasan kehutanan yang berfungsi sebagai wilayah lindung dan sumber air. Beberapa mata air seperti Lorogan, Sembir, Cirateun, dan Kopi Hideung disebut sebagai sumber air bersih maupun pengairan pertanian.
Dari sini terlihat bahwa air bukan hanya unsur alam, tetapi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi warga Selasari.
Cerita Masyarakat Selasari yang Dekat dengan Alam
Cerita masyarakat Selasari tidak bisa dipisahkan dari alamnya. Sungai, gua, bukit, dan hutan bukan sekadar latar pemandangan, tetapi ruang hidup yang memberi manfaat sekaligus membentuk kebiasaan masyarakat.
Sungai menjadi sumber air, jalur alami, sekaligus kini menjadi daya tarik wisata. Gua-gua karst menjadi bagian dari identitas alam desa. Bukit dan hutan menyimpan sumber kehidupan, mulai dari kayu, tanaman, udara sejuk, sampai mata air.
Situs Desa Wisata Selasari menyebut kawasan ini memiliki lebih dari 120 gua karst alami. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya karakter geologi desa tersebut. Tidak heran jika aktivitas seperti caving, river tubing, trekking, dan camping menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan.
Bagi masyarakat lokal, alam bukan hanya “produk wisata”. Alam adalah ruang yang harus dijaga. Jika sungai rusak, pertanian terdampak. Jika hutan tidak dijaga, sumber air bisa terganggu. Jika gua dan tebing karst dieksploitasi sembarangan, nilai ekologis dan wisata desa bisa hilang.
Dari sinilah muncul pelajaran penting: cerita masyarakat Selasari adalah cerita tentang hidup berdampingan dengan alam.
Legenda Santirah dan Kisah yang Hidup di Masyarakat
Salah satu cerita lokal yang paling sering dikaitkan dengan Desa Selasari adalah kisah Santirah. Nama Santirah kini sangat populer karena menjadi ikon wisata river tubing di Selasari. Namun di balik popularitasnya, ada cerita masyarakat yang membuat nama ini terasa lebih hidup.
Dalam cerita lokal yang beredar, Santirah dikisahkan sebagai seorang gadis desa yang cantik dan rupawan. Karena kecantikannya, banyak laki-laki tertarik kepadanya. Beberapa versi cerita menyebutkan bahwa Santirah juga dikenal sebagai penari Ronggeng Gunung.
Karena banyak laki-laki memperebutkannya, kisah Santirah kemudian berkembang menjadi legenda yang melekat pada kawasan sungai dan gua di desa tersebut.
Cerita seperti ini tidak harus selalu dibaca sebagai sejarah faktual. Dalam tradisi masyarakat, legenda sering berfungsi sebagai cara untuk menjaga ingatan, memberi identitas pada tempat, dan membuat alam memiliki “jiwa” dalam imajinasi warga.
Sungai Santirah akhirnya bukan hanya tempat bermain air. Ia menjadi ruang cerita. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati arus sungai, tebing karst, gua basah, dan air terjun kecil, tetapi juga mendengar kisah yang membuat perjalanan terasa lebih bermakna.
Di sinilah kekuatan wisata desa terlihat. Tempat yang punya cerita biasanya lebih mudah diingat dibanding tempat yang hanya mengandalkan pemandangan.
Budaya Sunda dalam Kehidupan Warga Selasari
Selasari juga dikenal sebagai desa yang masih menjaga seni dan budaya Sunda. Beberapa budaya yang sering dikaitkan dengan desa ini antara lain Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, Lengser, dan berbagai tradisi lokal lainnya.
Budaya ini membuat Selasari tidak hanya menarik dari sisi alam, tetapi juga dari sisi identitas masyarakat. Wisatawan bisa melihat bahwa desa ini punya warisan yang hidup, bukan sekadar atraksi buatan untuk kebutuhan pariwisata.
Ronggeng Gunung, misalnya, merupakan seni tradisional yang lekat dengan kawasan Pangandaran dan sekitarnya. Seni ini tidak hanya menampilkan tarian, tetapi juga menyimpan nilai historis, sosial, dan spiritual.
Begitu juga Angklung Buhun yang memiliki kesan lebih sakral dibanding angklung modern. Seni Lebon juga menjadi bagian menarik dari cerita masyarakat Selasari.
Dalam beberapa sumber wisata lokal, Seni Lebon disebut sebagai seni pertunjukan khas yang menggabungkan unsur bela diri, ketangkasan, dan ekspresi budaya.
Melalui seni-seni tersebut, masyarakat Selasari menjaga hubungan dengan masa lalu. Tradisi menjadi cara untuk mengenalkan nilai, memperkuat identitas, dan memberi warna pada kehidupan desa.
Gotong Royong sebagai Identitas Sosial Masyarakat
Selain alam dan budaya, salah satu cerita penting dari masyarakat Selasari adalah semangat gotong royong. Dalam profil desa wisata, masyarakat Selasari digambarkan memiliki semangat tinggi untuk membangun desa.
Banyak warga rela lahannya digunakan untuk pembangunan fasilitas umum seperti jalan, masjid, dan sarana desa lainnya.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan Selasari tidak hanya datang dari program pemerintah, tetapi juga dari partisipasi masyarakat. Semangat seperti ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam pengembangan desa wisata.
Desa wisata tidak akan berjalan baik jika masyarakatnya tidak ikut terlibat. Pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku kuliner, kelompok sadar wisata, petani, seniman, dan tokoh masyarakat semuanya punya peran.
Ketika wisatawan datang, yang mereka rasakan bukan hanya fasilitas. Mereka juga merasakan sikap warga: ramah atau tidak, tertib atau tidak, peduli lingkungan atau tidak. Dalam hal ini, gotong royong menjadi “wajah sosial” Selasari.
Masyarakat yang solid membuat desa lebih mudah berkembang. Wisata bisa dikelola lebih rapi, lingkungan lebih terjaga, dan manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas.
Dari Cerita Desa Menjadi Desa Wisata Unggulan
Perkembangan Selasari sebagai desa wisata adalah contoh menarik bagaimana cerita lokal bisa bertemu dengan potensi ekonomi.
Alam yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini dikembangkan menjadi atraksi wisata. Budaya yang dulu hidup di ruang masyarakat kini bisa menjadi daya tarik edukatif bagi pengunjung.
Santirah River Tubing menjadi salah satu ikon paling populer. Wisatawan diajak menyusuri sungai sepanjang sekitar 1,5 kilometer, melewati jeram, masuk ke beberapa gua basah, dan menikmati air terjun kecil.
Aktivitas ini membuat Selasari dikenal sebagai destinasi wisata petualangan di Pangandaran.
Selain Santirah, ada Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, Curug Cimanggu, wisata agro, kuliner lokal, dan pertunjukan budaya. Semua ini membentuk paket pengalaman yang cukup lengkap.
Pengakuan nasional juga memperkuat posisi Selasari. Desa ini pernah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 dan tercatat sebagai desa wisata kategori maju.
Pada Wonderful Indonesia Awards 2025, Desa Wisata Selasari juga meraih Juara Harapan 2 kategori Desa Wisata Berbasis Alam.
Namun yang paling penting, pengembangan wisata harus tetap menjaga akar cerita masyarakatnya. Jangan sampai Selasari hanya menjadi tempat wisata ramai, tetapi kehilangan suasana desa, keramahan warga, dan nilai lokal yang membuatnya unik.
Makna Nama Selasari untuk Masa Kini
Jika dilihat dari sudut pandang masa kini, nama Selasari bisa dibaca sebagai simbol. “Sela” menggambarkan ruang di antara alam: bukit, sungai, gua, hutan, dan lahan pertanian.
“Sari” menggambarkan inti nilai yang dijaga masyarakat: air, tanah, budaya, gotong royong, dan keramahan.
Makna ini membuat nama Selasari terasa relevan dengan identitas desa hari ini. Desa ini bukan hanya punya keindahan visual, tetapi juga punya “sari” atau inti yang membuatnya bernilai.
Bagi wisatawan, memahami asal-usul nama dan cerita masyarakat Selasari bisa membuat pengalaman berkunjung terasa lebih dalam. Mereka tidak hanya datang untuk tubing atau foto-foto, tetapi juga belajar bahwa setiap tempat punya cerita.
Bagi warga, nama Selasari adalah identitas yang perlu dijaga. Selama alamnya tetap bersih, budaya tetap hidup, dan masyarakat tetap kompak, nama Selasari akan terus punya makna.
Asal-usul nama Selasari memang belum banyak dijelaskan secara tegas dalam sumber resmi terbuka. Namun dari sisi bahasa, nama ini bisa dimaknai sebagai simbol keindahan dan nilai utama yang tersimpan di sela-sela alam Pangandaran.
Tafsir tersebut terasa selaras dengan kondisi desa yang berada di antara bukit, sungai, gua, hutan, mata air, dan lahan pertanian. Cerita masyarakat Selasari juga memperkaya identitas desa ini.
Ada kisah Santirah, budaya Sunda, seni tradisional, gotong royong warga, serta perjalanan desa agraris menuju desa wisata unggulan. Semua itu membuat Selasari bukan sekadar destinasi, tetapi ruang hidup yang punya sejarah dan jiwa.
Kalau berkunjung ke Pangandaran, cobalah melihat Selasari lebih dekat. Nikmati alamnya, dengarkan ceritanya, hormati budayanya, dan ikut jaga keasriannya.
FAQ
1. Apa arti nama Selasari?
Secara tafsir bahasa, “sela” bisa berarti celah atau ruang di antara sesuatu, sedangkan “sari” berarti inti atau bagian utama. Jadi, Selasari dapat dimaknai sebagai inti keindahan yang berada di sela-sela alam.
2. Apakah asal-usul nama Selasari sudah tercatat resmi?
Sumber resmi yang mudah diakses lebih banyak menjelaskan sejarah administratif dan potensi desa, bukan etimologi nama Selasari secara rinci. Karena itu, pembahasan asal-usul nama perlu ditulis sebagai tafsir dan cerita lokal.
3. Apa cerita masyarakat yang terkenal di Selasari?
Salah satu cerita yang cukup dikenal adalah kisah Santirah, yang dikaitkan dengan nama Sungai Santirah dan wisata river tubing di Desa Selasari.
4. Apa budaya khas masyarakat Selasari?
Budaya yang dikenal di Selasari antara lain Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, Lengser, serta tradisi masyarakat Sunda Pangandaran.
5. Mengapa Selasari dikenal sebagai desa wisata alam?
Selasari memiliki sungai, gua karst, bukit, hutan, mata air, dan lahan pertanian. Potensi alam tersebut dikembangkan menjadi wisata seperti Santirah River Tubing, Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, dan wisata edukasi.