Kalau mendengar nama Pangandaran, kebanyakan orang langsung membayangkan pantai, ombak, seafood, dan suasana liburan tepi laut. Padahal, Pangandaran tidak hanya punya wisata bahari.
Di balik kawasan pesisirnya, ada desa-desa hijau dengan sungai jernih, gua karst, perbukitan, tradisi lokal, dan kehidupan masyarakat yang masih dekat dengan alam.
Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah sejarah Desa Selasari, sebuah desa wisata alam di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Desa ini bukan hanya dikenal karena Santirah River Tubing, Goa Lanang, Pepedan Hills, atau Goa Sutra Reregan. Lebih dari itu, Selasari punya perjalanan panjang sebagai desa agraris yang kemudian berkembang menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat.
Menariknya, Selasari tidak muncul sebagai desa wisata secara instan. Identitas wisatanya tumbuh dari kekayaan alam, budaya Sunda, semangat warga, serta kemampuan masyarakat membaca peluang ekonomi lokal.
Karena itu, membahas Desa Selasari bukan sekadar membahas tempat liburan, tetapi juga kisah tentang perubahan, pelestarian, dan kebanggaan desa.
Mengenal Desa Selasari di Pangandaran
Desa Selasari berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Berdasarkan profil Jadesta Kementerian Pariwisata, Selasari merupakan salah satu dari 10 desa di Kecamatan Parigi dan berada pada ketinggian sekitar 200-500 meter di atas permukaan laut.
Wilayahnya juga disebut sebagai desa terluas di Kecamatan Parigi, dengan delapan dusun seperti Salakambang, Cikawung, Banjarsari, Tenjosari, Karangmukti, Giriharja, Cikadu, dan Pepedan.
Letaknya yang berada di kawasan perbukitan membuat suasana Selasari terasa berbeda dari pusat wisata pantai Pangandaran. Udara lebih sejuk, lanskapnya hijau, dan ritme hidup masyarakatnya terasa lebih tenang.
Inilah yang membuat Desa Wisata Selasari cocok untuk wisatawan yang ingin mencari pengalaman alam, bukan sekadar foto-foto di destinasi populer.
Secara karakter, Selasari adalah desa dengan kombinasi alam karst, sungai, hutan, lahan pertanian, dan budaya lokal.
Jadi, daya tariknya tidak berdiri pada satu objek saja, tetapi menyebar dalam banyak pengalaman: menyusuri sungai, masuk gua, trekking bukit, menikmati kuliner desa, sampai mengenal seni tradisional.
Jejak Sejarah Desa Selasari
Sejarah Desa Selasari cukup menarik karena memiliki akar yang panjang. Menurut data sekunder RPJMDes yang dikutip dalam profil Jadesta, Desa Selasari sudah ada sejak masa penjajahan Jepang.
Dahulu, Selasari merupakan bagian dari Kabupaten Ciamis. Namun, setelah pemekaran Kabupaten Ciamis pada tahun 2012, wilayah ini masuk ke dalam Kabupaten Pangandaran.
Perubahan administratif tersebut penting karena ikut memengaruhi arah pembangunan desa. Ketika Pangandaran menjadi kabupaten sendiri, potensi wisata lokal semakin mendapat perhatian.
Wilayah yang sebelumnya lebih dikenal sebagai kawasan pedesaan dan pertanian mulai dilihat sebagai bagian dari ekosistem pariwisata Pangandaran. Namun, sejarah Selasari tidak bisa dilepaskan dari kehidupan agraris masyarakatnya.
Jadesta mencatat bahwa topografi desa ini bervariasi, dari datar, landai, hingga miring. Penggunaan lahannya pun banyak terkait dengan permukiman dan pertanian.
Mayoritas penduduknya hidup dari sektor pertanian, baik sebagai buruh tani maupun pemilik lahan usaha pertanian.
Dari sinilah identitas Selasari terbentuk: desa yang tumbuh dari tanah, air, hutan, dan kerja warga. Ketika kemudian wisata berkembang, karakter agraris tersebut tidak hilang.
Justru menjadi bagian dari daya tarik, karena wisatawan bisa merasakan suasana pedesaan yang masih hidup secara alami.
Dari Desa Agraris Menjadi Desa Wisata
Perjalanan Selasari menjadi desa wisata tidak terjadi dalam satu malam. Awalnya, kekuatan utama desa ini adalah alam dan pertanian. Hutan, mata air, sungai, bukit, dan gua sudah ada sejak lama, tetapi belum semuanya dikemas sebagai pengalaman wisata.
Seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap wisata alam dan petualangan, potensi Selasari mulai dilirik. Masyarakat lokal kemudian mengembangkan berbagai atraksi berbasis alam, seperti river tubing, susur gua, camping, trekking, dan wisata edukasi.
Model seperti ini penting karena desa wisata yang sehat tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga melibatkan warga sebagai pelaku utama.
Jadesta menjelaskan bahwa desa wisata menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam pembangunan kepariwisataan.
Tujuannya bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga meningkatkan pemahaman wisata, partisipasi warga, nilai ekonomi lokal, dan kesejahteraan masyarakat.
Inilah yang membuat Desa Wisata Selasari punya nilai lebih. Wisatawan tidak hanya datang, membayar tiket, lalu pulang. Mereka bertemu pemandu lokal, menikmati kuliner warga, memakai fasilitas desa, membeli produk UMKM, dan ikut menggerakkan ekonomi setempat.
Alam Karst dan Sungai sebagai Identitas Selasari
Salah satu alasan mengapa Desa Selasari dikenal sebagai desa wisata alam di Pangandaran adalah kekayaan bentang alam karstnya.
Situs Desa Wisata Selasari menyebut kawasan ini memiliki lebih dari 120 gua alami, sungai jernih, serta perbukitan yang menjadi daya tarik utama bagi pencinta wisata petualangan.
Karakter alam seperti ini membuat Selasari berbeda dari destinasi pantai. Di sini, wisatawan diajak masuk ke ruang alam yang lebih intim: sungai yang membelah lembah, tebing karst, aliran air yang sejuk, serta gua-gua dengan stalaktit dan stalagmit.
1. Santirah River Tubing
Santirah River Tubing bisa dibilang sebagai wajah paling populer dari wisata alam Selasari. Aktivitas ini mengajak wisatawan menyusuri aliran Sungai Santirah menggunakan ban pelampung.
Jalurnya melewati sungai jernih, tebing karst, air terjun kecil, dan beberapa gua alami. DetikTravel mencatat bahwa rute pengarungan Santirah sekitar 1,5 kilometer dan memiliki daya tarik berupa air terjun serta empat gua alami.
Yang membuat river tubing di Selasari terasa menarik bukan hanya adrenalin, tetapi juga suasananya. Wisatawan tidak sekadar “main air”, tetapi menikmati lanskap desa dari perspektif sungai.
Dengan pemandu lokal, pengalaman ini jadi lebih aman, seru, dan terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
2. Goa Lanang dan Goa Sutra Reregan
Selain sungai, gua juga menjadi identitas penting Desa Selasari. Goa Lanang adalah salah satu destinasi yang sering disebut dalam paket wisata Selasari.
DetikTravel menyebut kedalaman Goa Lanang sekitar 364 meter dan cocok untuk wisatawan yang ingin mencoba caving dengan pendampingan pemandu.
Situs Desa Wisata Selasari juga memperkenalkan Goa Lanang sebagai pengalaman bawah tanah dengan stalaktit dan stalagmit yang menarik.
Selain itu, Goa Sutra Reregan juga kerap masuk dalam paket wisata desa bersama Santirah River Tubing dan Pepedan Hills.
Wisata gua seperti ini memberi nilai edukatif. Pengunjung bisa mengenal bentang alam karst, proses terbentuknya gua, pentingnya menjaga ekosistem bawah tanah, dan alasan mengapa kawasan seperti Selasari perlu dikelola secara hati-hati.
3. Pepedan Hills
Kalau ingin menikmati sisi lain Selasari, Pepedan Hills adalah pilihan menarik. Kawasan perbukitan ini menawarkan panorama hijau, spot foto, area camping, serta suasana sunrise dan sunset.
DetikTravel menulis bahwa Pepedan Hills sudah ditata sebagai tempat menikmati suasana bukit yang sejuk, lengkap dengan fasilitas dan spot swafoto.
Pepedan Hills cocok untuk wisatawan yang ingin pengalaman lebih santai setelah bermain air atau susur gua. Dari sini, Selasari terlihat sebagai desa yang lengkap: ada sungai, gua, bukit, hutan, dan ruang terbuka untuk menikmati alam.
Budaya Sunda dan Kearifan Lokal Selasari
Desa Selasari tidak hanya menjual keindahan alam. Budaya lokal juga menjadi bagian penting dari identitas desa wisata ini. Beberapa kesenian yang dikenal di Selasari antara lain Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, dan tradisi budaya lainnya.
Budaya seperti ini membuat pengalaman wisata terasa lebih hidup. Wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga mengenal cara masyarakat menjaga tradisi. Dalam konteks desa wisata, budaya adalah pembeda yang sangat kuat.
Sungai dan bukit mungkin bisa ditemukan di banyak tempat, tetapi cerita lokal, seni, kuliner, dan keramahan warga adalah hal yang tidak bisa ditiru begitu saja.
Dari sisi kuliner, Selasari juga memiliki produk lokal yang menarik. Jadesta mencatat beberapa suvenir dan kuliner seperti Pakis Crispy, Kopi Robusta Tjap Bueuk, Madu Jaga Rasa, Pindang Gunung, dan Jolem sebagai bagian dari produk desa wisata.
Ini menjadi bukti bahwa pariwisata Selasari tidak hanya bertumpu pada objek alam. Ada ekosistem ekonomi lokal yang ikut bergerak, mulai dari pemandu, pelaku homestay, pengelola atraksi, pengrajin, hingga pelaku kuliner.
Prestasi Desa Wisata Selasari
Perkembangan Desa Wisata Selasari juga mendapat pengakuan nasional. Pada Jadesta, Desa Wisata Selasari tercatat masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 dan berada dalam kategori desa wisata “Maju”.
Prestasi ini penting karena menunjukkan bahwa Selasari bukan hanya dikenal secara lokal, tetapi juga masuk radar pengembangan desa wisata nasional.
Bahkan pada Wonderful Indonesia Awards 2025, Desa Wisata Selasari tercatat meraih Juara Harapan 2 kategori Desa Wisata Berbasis Alam.
Penghargaan seperti ini tentu bukan akhir perjalanan. Justru menjadi pengingat bahwa kekuatan Selasari ada pada konsistensi menjaga alam, meningkatkan pelayanan, melibatkan warga, dan mempertahankan karakter lokal.
Sebab, desa wisata yang baik bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi juga tetap nyaman ditinggali masyarakatnya.
Tips Berkunjung ke Desa Wisata Selasari
Kalau ingin berkunjung ke Selasari, sebaiknya jangan datang hanya dengan rencana “lihat-lihat sebentar”. Desa ini lebih cocok dinikmati dengan konsep slow travel atau petualangan ringan.
Pilih aktivitas sesuai minat: Santirah River Tubing untuk yang suka air, Goa Lanang untuk yang ingin caving, Pepedan Hills untuk suasana bukit, atau wisata budaya untuk mengenal tradisi lokal.
Karena beberapa aktivitas melibatkan alam terbuka, gunakan pakaian yang nyaman, sandal atau sepatu anti-selip, dan bawa pakaian ganti.
Untuk river tubing atau susur gua, sebaiknya selalu mengikuti arahan pemandu lokal. Selain lebih aman, cara ini juga membantu wisatawan memahami cerita di balik setiap lokasi.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga etika berwisata. Jangan membuang sampah sembarangan, jangan merusak formasi gua, hormati warga setempat, dan dukung produk lokal.
Dengan begitu, kunjungan wisata tidak hanya menyenangkan bagi pengunjung, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat Selasari.
Sejarah Desa Selasari adalah cerita tentang desa agraris yang tumbuh menjadi desa wisata alam unggulan di Pangandaran.
Dari jejak masa penjajahan Jepang, perubahan administratif dari Ciamis ke Pangandaran, kehidupan pertanian, hingga pengembangan wisata berbasis masyarakat, Selasari menunjukkan bahwa desa bisa berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Daya tarik Selasari terletak pada kombinasi alam karst, sungai jernih, gua, bukit, budaya Sunda, kuliner lokal, dan keramahan warga.
Bagi wisatawan yang ingin melihat sisi Pangandaran selain pantai, Desa Wisata Selasari adalah pilihan yang layak masuk daftar kunjungan. Datanglah dengan rasa ingin tahu, nikmati alamnya, kenali budayanya, dan bantu jaga keasriannya.
FAQ
1. Di mana lokasi Desa Selasari?
Desa Selasari berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Desa ini berada di kawasan perbukitan dengan suasana alam yang sejuk.
2. Apa daya tarik utama Desa Wisata Selasari?
Daya tarik utamanya adalah Santirah River Tubing, Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, wisata budaya, kuliner lokal, dan suasana pedesaan yang asri.
3. Bagaimana sejarah Desa Selasari?
Menurut data RPJMDes yang dikutip Jadesta, Desa Selasari sudah ada sejak masa penjajahan Jepang. Sebelum tahun 2012, desa ini masuk wilayah Kabupaten Ciamis, lalu menjadi bagian dari Kabupaten Pangandaran setelah pemekaran.
4. Apakah Desa Selasari cocok untuk wisata keluarga?
Ya, Selasari cocok untuk wisata keluarga, terutama jika memilih aktivitas yang sesuai usia dan kondisi fisik. Untuk kegiatan seperti river tubing dan caving, sebaiknya mengikuti arahan pemandu lokal.
5. Apa budaya khas yang bisa ditemukan di Selasari?
Beberapa budaya yang dikenal di Selasari antara lain Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, serta tradisi lokal masyarakat Sunda Pangandaran.