Jejak Kehidupan Masyarakat Selasari Tempo Dulu

Setiap desa punya cerita lama yang kadang tidak tertulis rapi di buku sejarah. Cerita itu hidup lewat ingatan orang tua, nama tempat, kebiasaan warga, pola bertani, tradisi seni, dan cara masyarakat menjaga alam di sekitarnya.

Begitu juga dengan Desa Selasari di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Membahas jejak kehidupan masyarakat Selasari tempo dulu berarti melihat kembali bagaimana warga hidup sebelum desa ini dikenal sebagai desa wisata alam.

Sebelum Santirah River Tubing ramai dikunjungi, sebelum Pepedan Hills populer, dan sebelum nama Selasari muncul di berbagai promosi wisata, desa ini lebih dulu tumbuh sebagai ruang hidup masyarakat agraris.

Dulu, kehidupan warga Selasari sangat dekat dengan tanah, air, hutan, sungai, dan gotong royong. Alam bukan sekadar pemandangan, tetapi sumber kehidupan.

Dari sanalah masyarakat membangun rumah, menggarap lahan, menjaga mata air, merawat tradisi, dan membentuk identitas desa yang masih terasa sampai hari ini.

Mengenal Selasari sebagai Desa Lama di Pangandaran

Desa Selasari berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Menurut profil Jadesta Kementerian Pariwisata, Selasari sudah ada sejak masa penjajahan Jepang.

Sebelum Pangandaran menjadi kabupaten sendiri, Selasari merupakan bagian dari Kabupaten Ciamis. Setelah pemekaran tahun 2012, desa ini masuk ke wilayah Kabupaten Pangandaran.

Informasi ini menunjukkan bahwa Selasari bukan desa yang baru tumbuh karena wisata. Desa ini sudah punya akar sejarah yang lebih panjang, dengan kehidupan masyarakat yang terbentuk jauh sebelum pariwisata menjadi sektor unggulan.

Secara geografis, Selasari berada di kawasan dengan ketinggian sekitar 200-500 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya terdiri dari beberapa dusun, seperti Salakambang, Cikawung, Banjarsari, Tenjosari, Karangmukti, Giriharja, Cikadu, dan Pepedan.

Kondisi alam yang beragam membuat kehidupan warga tempo dulu tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sekitar.

Ada dataran untuk permukiman, lahan miring untuk pertanian, hutan sebagai penjaga air, sungai sebagai batas alami, dan bukit sebagai bagian dari lanskap desa.

Kehidupan Agraris sebagai Napas Utama Warga

Kalau ingin memahami Selasari tempo dulu, kita perlu mulai dari pertanian. Dalam data Jadesta, mayoritas penduduk Desa Selasari disebut bekerja di sektor pertanian, mulai dari buruh tani hingga pemilik usaha pertanian.

Ini menggambarkan bahwa kehidupan warga sejak lama sangat bergantung pada tanah dan hasil bumi. Pada masa lalu, aktivitas bertani bukan hanya urusan ekonomi.

Bertani adalah ritme hidup. Pagi hari, warga berangkat ke kebun atau sawah. Siang hari, mereka beristirahat atau mengurus hasil panen. Sore hari, kegiatan desa kembali bergerak di rumah, halaman, tempat ibadah, atau ruang pertemuan warga.

Lahan pertanian menjadi tempat kerja sekaligus tempat belajar. Anak-anak mengenal tanaman dari orang tua.

Mereka melihat bagaimana padi, palawija, sayuran, dan tanaman lain dirawat mengikuti musim. Pengetahuan seperti ini biasanya diwariskan secara alami, bukan lewat teori yang rumit.

Kehidupan agraris juga membentuk karakter masyarakat. Warga terbiasa sabar, karena hasil tani tidak bisa dipaksa instan. Mereka juga terbiasa bekerja bersama, karena banyak pekerjaan desa lebih mudah dilakukan dengan bantuan tetangga.

Mata Air, Sungai, dan Hutan sebagai Sumber Kehidupan

Di Selasari tempo dulu, air punya posisi sangat penting. Air bukan hanya untuk minum dan memasak, tetapi juga untuk pertanian, mandi, mencuci, dan kebutuhan harian lainnya. Karena itu, mata air dan sungai menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat.

Dalam profil desa wisata, disebutkan bahwa di Dusun Banjarsari terdapat wilayah kehutanan, baik hutan produksi maupun hutan alam, yang memiliki fungsi lindung sebagai sumber air.

Air dari kawasan ini mengairi daerah di bawahnya, termasuk lahan pertanian dan kebutuhan warga.

Beberapa mata air yang disebut dalam sumber desa antara lain Lorogan, Sembir, Cirateun, dan Kopi Hideung.

Nama-nama mata air ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ingatan geografis yang kuat. Mereka tahu dari mana air berasal, ke mana air mengalir, dan bagaimana air membantu kehidupan desa.

Hutan juga punya peran besar. Bagi masyarakat tempo dulu, hutan bukan hanya tempat pohon tumbuh. Hutan adalah pelindung mata air, penyimpan udara sejuk, sumber bambu, kayu, tanaman liar, dan ruang alam yang harus dihormati.

Dari hubungan ini, kita bisa melihat bahwa masyarakat Selasari sebenarnya sudah lama hidup dengan prinsip ekologis, meskipun mungkin tidak menyebutnya sebagai “konservasi”. Mereka menjaga alam karena tahu bahwa kehidupan mereka bergantung padanya.

Rumah, Jalan, dan Batas Alam Antar Dusun

Jejak kehidupan masyarakat Selasari tempo dulu juga bisa dibaca dari pola permukiman dan batas wilayahnya. Dalam profil Jadesta, disebutkan bahwa batas antar dusun di Desa Selasari banyak menggunakan batas alami seperti sungai, bukit, dan hutan.

Ini menarik karena menunjukkan cara masyarakat lama memahami ruang. Sebelum peta digital, patok beton, atau aplikasi navigasi menjadi umum, warga mengenal wilayah melalui tanda alam.

Sungai bisa menjadi penanda batas. Bukit bisa menjadi petunjuk arah. Hutan bisa menjadi pemisah antara satu dusun dan dusun lainnya.

Jalan desa pada masa lalu tentu tidak semulus sekarang. Akses menuju lahan, dusun, pasar, atau pusat kecamatan banyak bergantung pada kondisi alam. Saat musim hujan, jalan tanah bisa licin. Saat musim kemarau, debu dan jarak menjadi tantangan tersendiri.

Namun keterbatasan seperti itu justru membentuk kedekatan sosial. Warga saling mengenal karena sering bertemu di jalan, di kebun, di masjid, di warung, atau saat kegiatan bersama.

Desa menjadi ruang sosial yang hangat karena hubungan antarwarga dibangun dari interaksi harian.

Gotong Royong dalam Kehidupan Sehari-Hari

Salah satu ciri kuat masyarakat desa tempo dulu adalah gotong royong. Di Selasari, semangat ini terlihat dari cara warga membangun dan memperbaiki fasilitas umum.

Data Jadesta mencatat bahwa masyarakat desa memiliki semangat tinggi untuk membangun desa, bahkan sebagian warga rela lahannya digunakan untuk pembangunan prasarana umum seperti jalan dan masjid.

Gotong royong bukan hanya kegiatan besar. Dalam kehidupan harian, gotong royong bisa muncul dalam banyak bentuk.

Misalnya membantu tetangga saat membangun rumah, membersihkan saluran air, memperbaiki jalan kecil, menyiapkan acara keagamaan, atau membantu keluarga yang sedang punya hajatan.

Nilai seperti ini menjadi modal sosial yang sangat penting. Tanpa gotong royong, desa akan sulit bergerak. Dengan gotong royong, pekerjaan berat bisa terasa lebih ringan.

Bagi masyarakat Selasari tempo dulu, kebersamaan bukan sekadar slogan. Itu adalah kebutuhan hidup. Ketika akses terbatas dan teknologi belum secanggih sekarang, manusia harus lebih banyak bergantung pada hubungan baik dengan sesama.

Budaya Sunda yang Menjadi Warisan Masyarakat

Selain agraris, kehidupan masyarakat Selasari tempo dulu juga diwarnai budaya Sunda. Seni tradisional menjadi bagian dari identitas warga, baik sebagai hiburan, ekspresi spiritual, maupun sarana menjaga warisan leluhur.

Situs Desa Wisata Selasari menyebut beberapa budaya yang masih dikenalkan hingga kini, seperti Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, dan Lengser.

Kesenian ini menunjukkan bahwa masyarakat Selasari tidak hanya hidup dari kerja fisik di lahan, tetapi juga memiliki ruang untuk seni, rasa, dan simbol budaya.

Ronggeng Gunung, misalnya, dikenal sebagai seni tari tradisional khas Pangandaran yang punya nilai historis dan spiritual.

Angklung Buhun juga memiliki karakter tradisional yang berbeda dari angklung modern, karena lebih dekat dengan upacara adat dan suasana sakral.

Seni Lebon menampilkan unsur ketangkasan, bela diri, dan estetika gerak. Sementara Lengser sering hadir sebagai pertunjukan rakyat yang membawa humor, nasihat, dan kebijaksanaan lokal.

Tempo dulu, pertunjukan seni seperti ini biasanya menjadi momen berkumpul. Warga datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk merasakan kebersamaan. Seni menjadi jembatan antara hiburan, tradisi, dan identitas masyarakat.

Kuliner dan Kebiasaan Makan Warga Desa

Kehidupan masyarakat Selasari juga bisa dilihat dari makanan. Di desa agraris, makanan biasanya dekat dengan hasil bumi dan bahan lokal. Apa yang tumbuh di sekitar desa sering menjadi bagian dari dapur warga.

Hari ini, beberapa kuliner khas Selasari yang dikenal dalam promosi wisata antara lain Nasi Jolem, Pindang Gunung, Pakis Crispy, madu, kopi robusta, dan olahan bahan lokal lainnya.

Meskipun beberapa produk kini dikemas untuk wisata, akar rasanya tetap dekat dengan kehidupan desa.

Makanan seperti pakis atau paku-pakuan mencerminkan kedekatan warga dengan alam sekitar. Tanaman yang tumbuh di lingkungan desa bisa diolah menjadi lauk atau camilan.

Pindang Gunung juga menunjukkan karakter kuliner Pangandaran yang segar, berbumbu, dan dekat dengan sumber protein lokal.

Tempo dulu, dapur rumah menjadi ruang penting. Di sana, ibu-ibu mengolah bahan sederhana menjadi makanan keluarga. Resep tidak selalu ditulis, tetapi diwariskan lewat kebiasaan: melihat, membantu, mencoba, lalu mengingat rasa.

Inilah yang membuat kuliner desa punya kekuatan. Ia bukan hanya soal enak, tetapi juga menyimpan cerita keluarga, lingkungan, dan cara hidup masyarakat.

Perjalanan dari Kehidupan Tradisional ke Desa Wisata

Perubahan besar terjadi ketika potensi alam Selasari mulai dikembangkan menjadi wisata. Sungai, gua, bukit, dan hutan yang dulu menjadi bagian dari ruang hidup warga kemudian dikenalkan sebagai daya tarik bagi wisatawan.

Santirah River Tubing menjadi salah satu ikon paling populer. Wisatawan diajak menyusuri aliran sungai yang jernih dengan ban pelampung, melewati tebing, air terjun kecil, dan gua alami.

DetikTravel menyebut jalur pengarungan Santirah sekitar 1,5 kilometer dan melewati beberapa daya tarik alam seperti air terjun dan gua.

Selain Santirah, ada Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, dan berbagai wisata alam lainnya. Perubahan ini membuat Selasari tidak hanya dikenal sebagai desa agraris, tetapi juga sebagai desa wisata alam dan budaya.

Namun yang menarik, perkembangan wisata tidak sepenuhnya menghapus jejak tempo dulu.

Justru banyak daya tarik wisata Selasari berangkat dari kehidupan lama masyarakat: sungai yang dijaga, hutan yang memberi air, gua yang dikenal warga, kuliner rumah, dan seni tradisional yang diwariskan.

Dengan kata lain, wisata Selasari hari ini adalah wajah baru dari kehidupan lama yang berhasil dikemas lebih menarik.

Pelajaran dari Masyarakat Selasari Tempo Dulu

Ada banyak pelajaran dari kehidupan masyarakat Selasari tempo dulu. Pertama, kedekatan dengan alam membuat warga paham bahwa tanah, air, dan hutan harus dijaga. Tanpa itu, pertanian dan kehidupan harian bisa terganggu.

Kedua, gotong royong menjadi kekuatan utama desa. Dalam banyak situasi, kemajuan tidak lahir dari modal besar, tetapi dari warga yang mau bergerak bersama.

Ketiga, budaya lokal adalah identitas yang tidak boleh hilang. Seni, kuliner, bahasa, cerita rakyat, dan kebiasaan harian membuat sebuah desa berbeda dari desa lainnya.

Keempat, perubahan bisa berjalan tanpa harus memutus masa lalu. Selasari kini berkembang sebagai desa wisata, tetapi jejak agraris, budaya Sunda, dan kehidupan alamnya tetap menjadi fondasi utama.

Inilah yang membuat Selasari menarik. Desa ini bukan hanya menjual pemandangan, tetapi juga menawarkan cerita tentang kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama alam.

Jejak kehidupan masyarakat Selasari tempo dulu memperlihatkan desa yang kuat dengan nilai agraris, gotong royong, budaya Sunda, dan kedekatan dengan alam.

Sebelum dikenal sebagai desa wisata, Selasari adalah ruang hidup masyarakat yang bergantung pada pertanian, mata air, sungai, hutan, dan hubungan sosial antarwarga.

Perubahan zaman membawa Selasari menuju wajah baru sebagai desa wisata alam di Pangandaran. Namun, daya tariknya tetap berasal dari akar lama: alam yang terjaga, budaya yang diwariskan, kuliner lokal, dan keramahan masyarakat.

Kalau berkunjung ke Selasari, jangan hanya melihat sungai, gua, atau bukitnya. Cobalah merasakan cerita di baliknya. Dari jejak tempo dulu itulah kita bisa memahami mengapa Selasari punya karakter yang hangat, alami, dan berbeda.

FAQ

1. Sejak kapan Desa Selasari dikenal ada?

Menurut profil Jadesta Kementerian Pariwisata, Desa Selasari telah ada sejak masa penjajahan Jepang. Sebelumnya desa ini masuk wilayah Kabupaten Ciamis, lalu menjadi bagian dari Kabupaten Pangandaran setelah pemekaran tahun 2012.

2. Apa mata pencaharian utama masyarakat Selasari tempo dulu?

Masyarakat Selasari sejak lama banyak bertumpu pada sektor pertanian. Warga bekerja sebagai petani, buruh tani, atau pelaku usaha yang berhubungan dengan hasil bumi.

3. Mengapa mata air penting bagi masyarakat Selasari?

Mata air penting karena menjadi sumber air bersih dan pengairan pertanian. Beberapa mata air seperti Lorogan, Sembir, Cirateun, dan Kopi Hideung disebut sebagai bagian dari sumber air masyarakat.

4. Apa budaya tradisional yang dikenal di Selasari?

Budaya tradisional yang dikenal di Selasari antara lain Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, dan Lengser. Budaya ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda Pangandaran.

5. Bagaimana hubungan kehidupan tempo dulu dengan wisata Selasari saat ini?

Wisata Selasari saat ini banyak berakar dari kehidupan lama masyarakat. Sungai, hutan, gua, kuliner, dan seni tradisional yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini berkembang menjadi daya tarik wisata alam dan budaya.