Tokoh Lokal Selasari, Penggerak Kemajuan Desa Wisata

Kemajuan sebuah desa jarang terjadi karena satu orang saja. Biasanya, ada banyak tangan yang bekerja di belakang layar: tokoh masyarakat, kepala desa, pemuda, pengelola wisata, seniman, ibu-ibu pelaku UMKM, sampai warga biasa yang ikut menjaga lingkungan.

Begitu juga dengan Desa Selasari di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Desa ini kini dikenal sebagai desa wisata alam dengan daya tarik Santirah River Tubing, Goa Lanang, Goa Sutra Reregan, Pepedan Hills, wisata budaya, hingga kuliner lokal.

Namun, semua itu tidak muncul tiba-tiba. Di balik kemajuan Selasari, ada tokoh-tokoh lokal yang berperan penting.  Sebagian namanya tercatat dalam pemberitaan dan sumber publik.

Sebagian lainnya hadir sebagai tokoh kolektif, seperti Pokdarwis, BUMDes, Karang Taruna, pelaku seni, dan masyarakat desa.

Membahas tokoh lokal Selasari berarti membahas semangat gotong royong, keberanian membaca peluang, dan kemampuan warga desa mengubah potensi alam menjadi sumber kebanggaan bersama.

Selasari dan Perjalanan Menjadi Desa Wisata

Sebelum membahas tokoh-tokohnya, kita perlu melihat dulu konteks perkembangan Desa Selasari. Desa ini berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Menurut profil Jadesta Kementerian Pariwisata, Selasari merupakan salah satu desa di Kecamatan Parigi yang memiliki wilayah luas, berada pada ketinggian sekitar 200-500 meter di atas permukaan laut, dan terdiri dari delapan dusun.

Selasari punya karakter alam yang kuat. Ada sungai, gua karst, kawasan hutan, mata air, perbukitan, lahan pertanian, dan budaya Sunda yang masih hidup di masyarakat. Daya tarik inilah yang kemudian menjadi modal utama desa wisata.

Namun, potensi alam saja tidak cukup. Banyak desa punya pemandangan indah, tetapi tidak semuanya berhasil menjadi destinasi wisata.

Yang membuat Selasari bergerak adalah adanya orang-orang lokal yang mau memulai, mengelola, mempromosikan, dan menjaga kepercayaan wisatawan.

Karena itu, kemajuan Selasari tidak bisa hanya dibaca dari objek wisatanya. Kita juga perlu melihat siapa saja yang ikut mendorong perubahan tersebut.

Abah Unang, Penggerak Awal Desa Wisata Selasari

Salah satu nama yang sering disebut dalam cerita awal pengembangan wisata Selasari adalah Abah Unang. Dalam artikel Pemerintah Kabupaten Purbalingga tentang studi komparasi pelaku desa wisata, Abah Unang disebut sebagai pendiri desa wisata Selasari.

Cerita tentang Abah Unang menarik karena berangkat dari rasa prihatin. Ia melihat adanya kerusakan alam dan banyaknya pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap.

Dalam sumber tersebut, masyarakat sebelumnya disebut banyak yang bekerja sebagai pemburu babi hutan, serta ada aktivitas pengambilan batu di bukit dan sungai.

Dari kondisi itulah muncul gagasan untuk mengembangkan wisata. Abah Unang bersama warga melakukan diskusi dan survei lapangan selama sekitar tiga bulan sebelum memutuskan mengembangkan potensi wisata desa.

Peran Abah Unang penting karena ia melihat alam bukan hanya sebagai sumber yang bisa diambil, tetapi sebagai aset yang bisa dijaga dan memberi manfaat ekonomi. Ini adalah perubahan cara pandang yang sangat besar.

Dari sini, wisata di Selasari tidak hanya menjadi hiburan untuk pengunjung. Wisata juga menjadi jalan untuk membuka lapangan kerja, mengurangi tekanan terhadap lingkungan, dan memberi pilihan baru bagi pemuda desa.

Ugas atau Udin Tugaswara dan Peran Kepemimpinan Desa

Nama lain yang berperan dalam kemajuan Selasari adalah Ugas, yang dalam sumber lain dikenal sebagai Udin Tugaswara.

Pada masa awal pengembangan desa wisata, artikel Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyebut Ugas sebagai Ketua Karang Taruna Desa Selasari.

Saat itu, tantangannya tidak kecil. Banyak warga belum yakin bahwa wisata desa bisa berkembang. Ada juga dinamika dengan desa tetangga karena jalur wisata Santirah melibatkan wilayah sekitar.

Namun, melalui pembagian hasil dan kerja sama, hubungan yang semula kurang harmonis perlahan menjadi lebih baik.

Peran Ugas menarik karena menunjukkan pentingnya tokoh pemuda dalam perubahan desa. Karang Taruna tidak hanya menjadi organisasi formal, tetapi juga bisa menjadi penggerak sosial.

Anak muda desa punya energi, jaringan, dan keberanian untuk mencoba hal baru. Dalam perkembangan berikutnya, Udin Tugaswara juga disebut dalam sejumlah sumber sebagai Kepala Desa Selasari.

DetikJabar mencatat pernyataannya tentang pengembangan wisata berbasis alam, budaya, edukasi pertanian, Pokdarwis, BUMDes, homestay, produk UMKM, dan promosi media sosial.

Artinya, perannya tidak berhenti pada fase awal. Ia juga muncul dalam fase ketika Selasari mulai membangun sistem wisata yang lebih rapi, melibatkan lembaga desa, dan menghubungkan potensi lokal dengan dukungan dari pihak luar.

Asep dan Pentingnya Promosi Wisata

Dalam pengembangan desa wisata, promosi sering kali menjadi masalah besar. Tempatnya bagus, tapi orang luar tidak tahu. Paket wisatanya menarik, tapi informasinya sulit ditemukan. Di sinilah peran pengelola lapangan menjadi penting.

Salah satu nama yang disebut dalam artikel studi komparasi Purbalingga adalah Asep, pengelola Desa Wisata Selasari.

Ia menjelaskan bahwa promosi dilakukan melalui banyak cara, mulai dari mulut ke mulut, pendekatan ke guru, HPI Pangandaran, PHRI Pangandaran, media sosial, media televisi, hingga media cetak.

Cara promosi seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata desa tidak cukup hanya menunggu wisatawan datang. Harus ada usaha aktif untuk mengenalkan desa kepada pasar yang lebih luas.

Menariknya, Asep juga menekankan pentingnya pelayanan. Prinsipnya sederhana: satu orang wisatawan pun tetap harus dilayani dengan baik. Jangan sampai pengunjung pulang membawa kesan buruk.

Ini pelajaran penting untuk desa wisata mana pun. Dalam dunia pariwisata, pengalaman pengunjung adalah promosi paling kuat. Jika wisatawan puas, mereka bisa bercerita ke teman, membuat ulasan positif, atau kembali lagi bersama rombongan.

Pokdarwis sebagai Motor Penggerak Wisata

Selain tokoh personal, kemajuan Selasari juga tidak bisa dilepaskan dari peran Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata. Dalam situs panduan Desa Wisata Selasari, pengelolaan desa wisata disebut dilakukan masyarakat lokal melalui Pokdarwis.

Pokdarwis menjadi penghubung antara potensi alam dan pengalaman wisata. Mereka tidak hanya menjaga tiket atau menyambut tamu, tetapi juga ikut memastikan jalur wisata aman, pemandu siap, fasilitas berjalan, dan pengunjung mendapat pengalaman yang baik.

Dalam konteks Selasari, Pokdarwis punya peran penting pada atraksi seperti Santirah River Tubing, susur gua, wisata budaya, trekking, hingga edukasi desa.

Aktivitas seperti river tubing dan caving membutuhkan pengelolaan serius karena berkaitan dengan keselamatan wisatawan.

Pokdarwis juga berperan dalam menjaga Sapta Pesona: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Nilai-nilai ini terdengar sederhana, tetapi sangat menentukan kualitas destinasi.

Tanpa Pokdarwis yang aktif, desa wisata bisa mudah kacau. Pengunjung bingung, fasilitas tidak terawat, promosi tidak konsisten, dan manfaat ekonomi bisa tidak merata.

BUMDes dan Pengelolaan Ekonomi Lokal

Kemajuan Selasari juga melibatkan BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa. NU Online pernah menulis bahwa Santirah River Tubing dikelola sebagai bagian dari pengembangan wisata desa oleh BUMDes Desa Selasari.

Dalam kunjungan Menteri Desa PDTT tahun 2021, pengurus BUMDes, kepala desa, dan masyarakat setempat diajak berdiskusi tentang pengembangan unit usaha wisata agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

Peran BUMDes penting karena desa wisata membutuhkan sistem ekonomi yang jelas. Ada tiket, paket wisata, homestay, perlengkapan, kuliner, UMKM, hingga kebutuhan operasional. Semua itu perlu dikelola agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

DetikJabar juga mencatat bahwa Pemerintah Desa Selasari melibatkan BUMDes dalam pengelolaan tiket, paket wisata, homestay, hingga produk UMKM.

Model seperti ini membuat wisata tidak hanya menjadi kegiatan rekreasi, tetapi juga mesin ekonomi lokal.

Namun, yang menarik dari Selasari adalah orientasinya pada pemberdayaan warga. Pendapatan tidak hanya ditarik ke desa, tetapi juga dibagi melalui peran pemandu, pelaku UMKM, homestay, dan unsur pendukung lain.

Dengan cara ini, wisata menjadi lebih inklusif. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mendapat manfaat langsung.

Tokoh Seni dan Penjaga Budaya Sunda

Selasari tidak hanya berkembang karena wisata alam. Budaya lokal juga menjadi daya tarik penting. Dalam berbagai sumber wisata, Selasari dikenal memiliki seni budaya seperti Ronggeng Gunung, Angklung Buhun, Seni Lebon, dan Lengser.

Di balik seni-seni tersebut, tentu ada tokoh budaya, pelatih, pemain musik, penari, sesepuh, dan komunitas seni lokal yang menjaga tradisi tetap hidup. Nama mereka mungkin tidak selalu muncul di berita, tetapi perannya sangat penting.

Ronggeng Gunung, misalnya, bukan hanya tontonan. Seni ini punya nilai historis dan identitas lokal yang kuat di kawasan Pangandaran. Begitu juga Angklung Buhun yang memiliki nuansa tradisi lebih tua dan sakral.

Tokoh seni lokal membantu Selasari tampil sebagai desa wisata yang tidak hanya menjual sungai dan gua. Mereka memberi “jiwa” pada pengalaman wisata. Pengunjung bisa mengenal karakter masyarakat, bukan hanya menikmati pemandangan.

Di era wisata modern, budaya adalah pembeda. Banyak tempat bisa menawarkan spot foto, tapi tidak semua tempat punya cerita, musik, tarian, dan tradisi yang hidup dari masyarakatnya sendiri.

Pemuda Desa dan Karang Taruna

Pemuda punya posisi penting dalam kemajuan Selasari. Pada fase awal, Karang Taruna ikut menjadi bagian dari perubahan. Mereka membantu menggerakkan wisata, menghadapi keraguan warga, dan ikut membangun hubungan dengan kelompok lain.

Peran pemuda juga terlihat dalam promosi digital. Di masa sekarang, desa wisata tidak bisa hanya mengandalkan brosur atau kabar dari mulut ke mulut. Media sosial, website, foto, video pendek, dan ulasan online sangat berpengaruh.

Pemuda desa biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Mereka bisa menjadi admin media sosial, pembuat konten, pemandu wisata muda, fotografer, operator reservasi, hingga pengelola paket wisata.

Lebih dari itu, keterlibatan pemuda juga membantu mengurangi urbanisasi. Jika desa menyediakan peluang ekonomi yang menarik, anak muda tidak selalu harus pergi jauh untuk mencari pekerjaan.

Selasari memberi contoh bahwa alam desa bisa menjadi ruang masa depan bagi generasi muda, selama dikelola dengan kreatif dan bertanggung jawab.

Ibu-Ibu, UMKM, dan Wajah Ekonomi Harian Selasari

Kemajuan desa wisata juga sangat bergantung pada pelaku UMKM, termasuk ibu-ibu desa. Mereka mungkin tidak selalu disebut sebagai tokoh besar, tetapi perannya terasa langsung dalam pengalaman wisatawan.

Ketika wisatawan datang, mereka butuh makanan, minuman, oleh-oleh, homestay, dan pelayanan yang hangat. Produk lokal seperti kuliner khas, kopi, madu, makanan ringan, dan paket makan desa menjadi bagian dari rantai wisata.

Di Selasari, kuliner seperti Nasi Jolem, Pindang Gunung, Pakis Crispy, Kopi Robusta, dan produk lokal lain sering dikaitkan dengan identitas desa wisata.

Produk seperti ini tidak hanya mengisi perut pengunjung, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga.

Ibu-ibu pelaku UMKM menjadi tokoh ekonomi harian. Mereka menjaga rasa, kebersihan, keramahan, dan kualitas layanan. Kalau wisatawan puas dengan makanannya, pengalaman berkunjung terasa lebih lengkap.

Inilah yang membuat desa wisata terasa hidup. Bukan hanya ada objek wisata, tetapi ada warga yang menyambut, memasak, menjual, bercerita, dan ikut membangun suasana.

Tokoh Masyarakat, Aparatur Desa, dan Mitra Eksternal

Kemajuan Selasari juga melibatkan tokoh masyarakat dan aparatur desa.

Dalam pengembangan wisata Curug Cimanggu, misalnya, Perhutani mencatat adanya pertemuan yang melibatkan Perhutani KPH Ciamis, perwakilan kementerian, dinas pariwisata, Kepala Desa Selasari Udin Tugaswara, aparatur desa, dan tokoh masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa kemajuan desa tidak bisa hanya mengandalkan internal desa. Perlu jejaring dengan banyak pihak, mulai dari pemerintah, lembaga kehutanan, komunitas, akademisi, media, hingga pelaku industri wisata.

Tokoh masyarakat berperan menjaga komunikasi agar pembangunan tidak menimbulkan konflik. Mereka membantu menjembatani kepentingan warga, menjaga nilai lokal, dan memastikan perubahan tetap berjalan sesuai karakter desa.

Dalam desa wisata, kepercayaan sosial sangat penting. Kalau warga tidak kompak, destinasi sulit berkembang. Karena itu, peran tokoh masyarakat sering kali tidak terlihat di panggung, tetapi sangat menentukan stabilitas di belakang layar.

Pelajaran dari Tokoh-Tokoh Lokal Selasari

Dari cerita Selasari, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, kemajuan desa lahir dari kepedulian. Abah Unang melihat masalah lingkungan dan pengangguran, lalu mengubahnya menjadi gerakan wisata.

Kedua, kepemimpinan lokal sangat penting. Tokoh seperti Ugas atau Udin Tugaswara menunjukkan bahwa perubahan butuh figur yang bisa menghubungkan pemuda, warga, lembaga desa, dan pihak luar.

Ketiga, promosi dan pelayanan tidak boleh diremehkan. Asep dan pengelola wisata mengajarkan bahwa satu wisatawan pun tetap harus dilayani dengan baik.

Keempat, kemajuan desa harus melibatkan banyak pihak. Pokdarwis, BUMDes, Karang Taruna, seniman, ibu-ibu UMKM, tokoh masyarakat, aparatur desa, dan warga semuanya punya peran.

Inilah kekuatan utama Selasari: bukan hanya alamnya indah, tetapi masyarakatnya bergerak bersama.

Tokoh-tokoh lokal yang berperan dalam kemajuan Selasari menunjukkan bahwa desa wisata tidak dibangun hanya dengan pemandangan bagus.

Dibutuhkan keberanian memulai, kepemimpinan, promosi, pengelolaan, gotong royong, dan konsistensi menjaga kualitas.

Nama seperti Abah Unang, Ugas atau Udin Tugaswara, dan Asep menjadi bagian penting dari cerita publik tentang perkembangan Desa Wisata Selasari.

Namun, kemajuan desa ini juga lahir dari tokoh kolektif: Pokdarwis, BUMDes, Karang Taruna, seniman lokal, ibu-ibu UMKM, aparatur desa, tokoh masyarakat, dan warga.

Kalau berkunjung ke Selasari, jangan hanya menikmati sungai, gua, dan bukitnya. Lihat juga cerita orang-orang di baliknya. Dari merekalah kita belajar bahwa desa bisa maju ketika alam dijaga dan masyarakat bergerak bersama.

FAQ

1. Siapa tokoh lokal yang dikenal dalam pengembangan Desa Wisata Selasari?

Beberapa nama yang muncul dalam sumber publik antara lain Abah Unang, Ugas atau Udin Tugaswara, dan Asep. Selain itu, Pokdarwis, BUMDes, Karang Taruna, seniman, pelaku UMKM, dan warga juga punya peran besar.

2. Apa peran Abah Unang dalam kemajuan Selasari?

Abah Unang disebut sebagai salah satu penggerak awal atau pendiri desa wisata Selasari. Ia berangkat dari keprihatinan terhadap kerusakan alam dan pengangguran pemuda, lalu mendorong pengembangan wisata berbasis potensi lokal.

3. Apa peran Pokdarwis di Desa Selasari?

Pokdarwis berperan sebagai penggerak wisata lokal. Mereka membantu mengelola atraksi, pelayanan, pemandu, promosi, dan menjaga pengalaman wisatawan agar tetap aman dan menyenangkan.

4. Mengapa BUMDes penting dalam desa wisata?

BUMDes membantu mengelola ekonomi wisata seperti tiket, paket wisata, homestay, UMKM, dan fasilitas pendukung. Dengan pengelolaan yang baik, manfaat wisata bisa lebih banyak dirasakan masyarakat.

5. Apakah kemajuan Selasari hanya bergantung pada tokoh tertentu?

Tidak. Kemajuan Selasari adalah hasil kerja bersama. Tokoh personal memang penting, tetapi kemajuan desa juga sangat bergantung pada warga, kelompok pemuda, pelaku seni, UMKM, aparatur desa, dan tokoh masyarakat.